Rindu Berbalas Kasih



Langit mengeluarkan sinar jingganya. Nayla duduk termenung di jendela kamarnya sembari menatap indahnya langit senja itu. Wajah gadis itu nampak murung. Tanpa disadarinya, kakaknya telah berada di hadapannya.
“Nay, kamu sudah punya keputusan?”









---------------------------


Rindu Berbalas Kasih


Oleh: Zakiyah Taqiyah

“Nayla yakin menolak lamaran itu?” Wanita berjilbab merah muda itu bertanya dengan wajah menyelidik pada gadis berjilbab biru muda di sebelahnya.

“Iya, Nayla yakin, kak.” Jawab gadis berjilbab biru muda itu.

“Ini sudah kesekian kalinya. Apa Nayla masih menunggu Kak Baim?”

“Tidak, kak. Nayla tidak berkata seperti itu. Nayla hanya merasa belum cocok saja. Kak Izza kenapa berkata seperti itu?” Gadis berjilbab biru muda itu nampak gugup.

“Tidak, Nay. Kakak hanya merasa kamu belum betul-betul melupakan Baim. Dia sudah pergi sejak 4 tahun yang lalu. Kakak pikir, pria yang kamu lihat setengah tahun lalu itu bukanlah dia.”

“Iya, kak. Nay juga berpikir seperti itu. Sudahlah, Nay tidak mau membahas ini lagi. Nayla pergi dulu, ya, kak.” Gadis berjilbab biru muda itu berlalu meninggalkan wanita yang dipanggilnya kakak itu yang masih duduk di bangku taman.
***

Nayla, gadis cantik dengan prestasi yang gemilang juga terkenal sangat alim. Telah beberapa pria yang datang untuk melamarnya. Kemolekan wajah dan keelokan hatinya membuat banyak pria jatuh hati padanya. Namun, walau telah begitu banyak pria dengan berbagai kelebihan mereka yang datang melamar Nayla, tak seorang pun yang berhasil mempersunting gadis itu.

Nayla memiliki seorang kakak bernama Izza. Saat mereka masih berstatus siswi SMA, Izza pernah memperkenalkan seorang temannya kepada Nayla. Pria bernama Ibrahim, yang akrab dipanggil Baim oleh Nayla. Sejak pertama berkenalan, Baim dan Nayla sepertinya telah saling jatuh hati. Izza pun sangat tahu, bahwa Baim tulus menyayangi adiknya.

Namun, setelah lulus SMA, Baim pergi tanpa kabar. Baik Izza maupun Nayla tak tahu kemana Baim pergi. Nayla merasa sangat kehilangan. Telah berlalu sejak 4 tahun kepergian Baim. Sejak saat itu, Nayla belum pernah dekat dengan siapapun lagi. Hingga akhirnya, setengah tahun yang lalu Nayla tidak sengaja melihat seseorang yang dia rasa mirip dengan Baim. Sejak saat itu, Nayla selalu merasa tak tenang. Dia begitu khawatir dengan keadaan Baim.
***

Hari terasa gelap. Awan hitam mengepul di atas langit. Gadis berjilbab biru muda itu berjalan lesu diantara lalu lalang berbagai manusia. Wajahnya terus menunduk, seperti kebiasaannya saat berjalan. Walau dia nampak fokus pada jalan, namun pikirannya terus melayang. Bayangan pria yang dilihatnya setengah tahun lalu itu terus melintas di pikirannya. Dia sangat berharap, pria itu betul-betul Baim, orang yang selama ini dirindukannya.

“Jika itu kak Baim, harusnya kak Baim datang memberi kabar pada Nay. Apa kak Baim tidak khawatir pada keadaan Nay? Kak Baim bahkan tidak pernah memberi tahu Nay kemana kak Baim selama ini. Nayla khawatir, kak.” Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.
***

Baru saja Nayla menaruh handbag miliknya di atas meja belajar di kamarnya, terdengar suara salam dari seseorang di luar kamarnya. Nayla segera menjawab salam itu lalu bergegas membuka pintu kamarnya.

“Ah, paman rupanya. Ada apa, paman?” Tanya Nayla pada sosok pria paruh baya yang berdiri di depan pintu kamarnya itu.

Pria paruh baya berusia sekitar 50-an, nampak berwibawa dengan setelan gamis putih bersih yang dipadu dengan peci haji putih. Penampilannya sederhana, namun Ia nampak sangat berwibawa. Beliau adalah seorang ustadz yang sangat terkenal. Ustadz Yusuf Al-Anshar namanya. Beliau adalah paman dari gadis berjilbab itu, Nayla. Beliau tersenyum pada gadis berjilbab di hadapannya.

“Nayla, paman membawa sesuatu untukmu. Paman harap kamu mau menerimanya.” Kata pria paruh baya itu sambil menyerahkan sebuah map berwarna coklat muda.

“Apa ini, paman?” Nayla nampak bingung menerima map itu.

“Seseorang telah mengajukan lamarannya untukmu. Dia memang cacat, tapi paman tahu kamu bukan orang yang menilai dari satu sisi seperti itu. Paman membawakan itu karena paman berpikir dia seseorang yang tepat untukmu, nak.”

Nayla terdiam mendengar penjelasan dari pamannya itu.
***

Langit mengeluarkan sinar jingganya. Nayla duduk termenung di jendela kamarnya sembari menatap indahnya langit senja itu. Wajah gadis itu nampak murung. Tanpa disadarinya, kakaknya telah berada di hadapannya.

“Nay, kamu sudah punya keputusan?”

“Eh, kakak.” Nayla nampak gugup. “Nay masih bingung, kak. Nay tahu kalau pilihan paman itu sulit untuk ditolak. Paman belum pernah salah dalam menjodohkan seseorang. Namun…” Nayla tidak menyelesaikan ucapannya.

“Baim?” Wanita berjilbab coklat itu berkata sambil memandang langit di jendela.

“Kak, Nay tidak bermaksud begitu. Nay hanya…”

“Terima.” Kata Izza memotong kata-kata Nayla. “Kakak sarankan, kamu harus menerima lamaran itu. Untuk kali ini, kakak sangat yakin kamu akan menyesal jika menolaknya.” Izza menatap wajah Nayla lekat.
Nayla tak bisa berkata apapun. Kakaknya selalu memberinya saran terbaik. Nayla belum membuka isi map yang diberikan pamannya itu. Ia tak ingin merasa kecewa. Tapi bagaimana mungkin ia masih menolak ketika paman dan kakaknya telah menyarankannya untuk menerima lamaran itu.

“Seandainya Mama ada di sini. Ma, Nay masih bingung. Apa yang harus Nay lakukan sekarang?”
***

Mesjid itu masih nampak ramai. Imam yang baru saja memimpin salat Dhuhur itu masih nampak duduk berdzikir di sajadahnya. Beberapa jama’ah juga nampak masih duduk untuk berdzikir. Seorang jama’ah nampak berbeda. Dia duduk dengan kaki yang dipanjangkan. Tak lama, dia berdiri lalu mengambil sebuah tongkat penyanggah yang dia simpan tak jauh dari tempatnya duduk.

Pria itu berjalan mendekati Imam yang masih duduk berdzikir itu.

“Assalamu’alaikum, ustadz.” Sapa pria itu sopan.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, kamu, nak. Iya, ada apa?” Kata ustadz itu lalu berbalik ke arah pria itu.

“Afwan, ustadz. Aku ingin meminta saran. Ada sesuatu yang sangat mengganjal hatiku, ustadz.”

“Ceritakanlah. Jika seandainya aku bisa membantumu, pasti akan aku lakukan.” Kata ustadz itu sambil membetulkan letak duduknya.

“Begini ustadz, saya ingin melamar seseorang.” Pria itu lalu menunduk.

“Wah, itu kabar baik. Aku mendukungmu. Lalu, siapakah gadis beruntung itu?”

“Dia seorang gadis yang sangat cantik, pintar, dan ilmu agamanya juga tinggi. Dia sangat sempurna, ustadz.”

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Apa kamu sudah mengenalnya?”

“Iya, aku sangat mengenalnya. Dia seseorang dari masa laluku. Kami pernah dekat sebelumnya, ustadz. Tapi itu sebelum…” Kata-kata pria itu tak disambungnya, hanya pandangannya yang tertuju pada kakinya dibalik sarung yang dikenakannya.

“Lalu, apa kamu merasa enggan hanya karena masalah itu?”

“Iya, ustadz. Aku takut, dia tidak menerimaku dengan keadaanku yang seperti ini.”

“Kalau benar dia begitu pintar dan beragama, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Bulatkan tekadmu, aku pasti akan membantumu. Kalau boleh tau, siapa nama gadis itu?”

“Namanya Nayla Safira, ustadz.”

“Nayla Safira? Subhanallah. Kamu sangat beruntung, Ibrahim. Nayla itu keponakanku. Aku pasti akan membantumu. Percayakan niatmu itu kepadaku. Aku akan segera memberimu kabar selanjutnya.”

“Benarkah itu, ustadz? Terima kasih, ustadz. Terima kasih banyak. Aku sangat bersyukur. Alhamdulillah, aku tak tahu harus berterima kasih bagaimana. Aku pasti sangat berutang budi pada ustadz.” Pria itu terus mencium telapak tangan imam itu. Wajahnya nampak sangat bahagia.
***

Rumah sederhana itu nampak ramai. Sebuah mobil avanza silver terparkir di depan rumah itu. Beberapa motor juga nampak terparkir di halaman rumah itu. Di ruang tamu, nampak beberapa orang yang duduk sambil bercerita. Diantara mereka ada Ustadz Yusuf, Izza, dan suami Izza.

“Assalamu’alaikum.” Kata Nayla memasuki ruang tamu.

“Wa’alaikum salam warahmatullah.”

“Ini, Nayla?” Kata wanita paruh baya itu.

“Iya, bu. Ini Nayla adik saya. Nay, kamu duduk disini.” Kata Izza mempersilakan Nayla duduk disampingnya.

“Nay, kamu cantik sekali. Beruntung Ibrahim mendapatkan kamu.”

“Ibrahim?” Nayla tersentak mendengar nama Ibrahim disebut.

“Iya, Ibrahim. Itu nama anak ibu. Ada apa?”

“Kak, namanya…” Nayla bertanya pada Izza yang duduk di sampingnya. Izza hanya tersenyum menatap adiknya itu.

“Assalamu’alaikum.” Seorang pria berjalan masuk dengan terbata-bata.

“Wa’alaikum salam…” Nayla tak melanjutkan salamnya. “Kak Baim?” Nayla bangkit dari duduknya.

“Nayla.” Kata pria yang dipanggil Baim itu sembari tersenyum hangat.

“Kak Baim, bagaimana mungkin? Kak Izza, kenapa kakak tidak…”

“Sudah, kamu duduk dulu. Maaf, ya. Nayla sangat rindu, makanya kaget begitu.”

“Kakak!” Seru Nayla mencubit kakaknya.

“Ibrahim sudah cerita. Sejak kembali dari Palestina, dia terus murung. Dia sangat ingin datang menemuimu, nak. Tapi, dia merasa takut. Dia takut kamu tidak akan menerimanya lagi.” Ibu Ibrahim bercerita sambil menunduk.

“Nay, kamu tahu keadaannya sekarang, kan? Baim kehilangan kakinya saat berjihad. Apa itu menjadi masalah untuk kamu?” Tanya Izza sambil menatap Nayla.

“Kak Baim, Nayla bukan tipe orang yang menilai dari fisik. Nayla tidak peduli dengan keadaan fisik kakak. Nayla justru bangga, kakak kehilangan kaki itu karena jihad. Nayla bahagia, rindu yang selama ini Nay rasa akhirnya berbalas kasih dari Kak Baim.” Nampak menetes air bening dari ujung mata Nayla.

“Makasih, Nay. Aku akan berusaha jadi suami yang baik walaupun aku cacat seperti ini.” Kata Baim yang duduk tepat di hadapan Nayla. Di hadapannya Nayla menyeka air matanya lalu tersenyum.

***

Komentar

Postingan Populer